Kamis, 16 April 2026

Kelas 9 - Bab 6 - Struktur Teks Argumentasi - Pertemuan 3

 Assalamualaikum Wr. Wb. Semangat Pagi Siswa-siswi Sekalian.... 

Nama Guru : Mayang Famelia, S.Pd

Mapel Diampu : Bahasa Indonesia

Hari, Tanggal : Kamis, 16 April 2026

Kelas : 9

Materi :  Struktur Teks Argumentasi

BAB : 6 

Pertemuan : 3

Elemen Cp : Membaca dan Memirsa

Metode : Discovery Learning (Kelompok-diskusi)



Tujuan Pembelajaran : Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapat menganalisis 3 struktur teks argumentasi dengan tepat.



Materi Pembelajaran (inti pembahasan) : 


A. Pengertian Teks Argumentasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), argumentasi adalah alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Nah, dari pengertian tersebut, Sobat Pijar bisa mengartikan bahwa teks argumentasi adalah teks yang isinya berupa opini penulis disertai pembuktian berupa fakta dan disampaikan secara logis dan objektif. Materi teks argumentasi ini bisa tentang apa saja, misalnya seperti fenomena sosial, politik, maupun lingkungan. 



Struktur Teks Argumentasi


  1. Pendahuluan

Bagian pertama teks argumentasi adalah pendahuluan yang berisi penjelasan secara singkat, padat dan jelas terkait isu apa yang akan dibahas. Bahasa yang digunakan harus menarik supaya pembaca bisa tertarik membaca teksnya dari awal hingga akhir. 

  1. Badan Argumen

Bagian yang kedua adalah badan argumen yang berisi data dan fakta yang didapat dari hasil riset. Bahasa yang digunakan di badan argumen harus terstruktur dan tertata supaya bisa mudah dipahami oleh pembaca. Bisa dikatakan, badan argumen ini merupakan isi dari teks argumen, ya. 

Pada bagian ini, penulis memberikan data atau hasil riset secara terstruktur dan sistematis agar pembaca bisa memahami argumen yang disampaikan dengan mudah.


  1. Kesimpulan

Sampai di bagian teks argumentasi yang terakhir, kesimpulan berisi rangkuman dan intisari dari keseluruhan teks. Bahasa yang digunakan singkat, padat, dan jelas. Di kesimpulan, yang diutamakan adalah kelogisan dan penalaran yang masuk akal. 



Contoh:


Ketahanan Pangan pada Masa Pandemi Covid-19


Struktur Pendahuluan: 

Pandemi Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa ketahanan pangan nasional sangat penting ketika negara lain tidak dapat melepas cadangan pangan ke pasar global. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan kepada negaranegara anggotanya untuk menjaga ketersediaan pangan nasional di negara masing- masing.


Struktur Badan Argumen : 

Walaupun stok pangan secara global cukup, karena pandemi Covid-19 meng haruskan karantina total atau sebagian wilayah, setiap negara anggota harus bisa mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Situasi ini mem beri tekanan berat pada rantai pasok pangan karena perdagangan global menjadi terbatas karena banyak negara menutup pelabuhan dan perbatasan.


Di dalam negeri sendiri, produksi pangan melibatkan jejaring petani, pasokan sarana produksi, pengolahan pascapanen, logistik dan distribusi, hingga perdagangan eceran. Jika salah satu mata rantai terhambat, pasokan pangan juga akan terganggu.


Kombinasi kedua alasan tersebut di atas menjadi hal yang tidak mudah bagi negara-negara yang mendapatkan pangan dari pasar internasional. Situasi itu menjadi lebih berat bagi negara yang menginpor pangan dalam jumlah besar karena penduduk yang banyak seperti Indonesia.


Struktur Kesimpulan : 

Oleh karena itu, pandemi Covid-19 makin menegaskan tentang pemahaman kita bahwa ketahanan pangan harus kita perluas jika Indonesia ingin memiliki kedaulatan pangan khususnya dan kedaulatan negara pada umumnya.



Assasmen : 

LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)

Bacalah teks arguemntasi berikut dengan saksama, kemudian analisislah strukturnya, dan presentasikan hasilnya di depan kelas!


1) Kelompok Sangat Mahir


Diversifikasi untuk Ketahanan Pangan


Ketahanan pangan sangat penting untuk diperkuat sekarang ini. Tingginya tingkat ketergantungan pada beras sebagai sumber karbohidrat utama menjadikan bangsa ini cukup rentan dalam hal kedaulatan pangan. Data yang ada menunjukkan tingkat konsumsi beras mencapai 94,9 kg per kapita per tahun dengan total kebutuhan mencapai 29,6 juta ton per tahun. Konsumsi yang besar ini membuat Indonesia tidak dapat terhindar dari upaya impor beras. Memang produksi beras lebih tinggi daripada kebutuhan, tetapi pemerintah butuh impor sebagai persediaan untuk mengendalikan harga di pasaran.


Dari data pada 1954, komposisi karbohidrat dalam struktur menu bangsa kita menunjukkan proporsi beras hanya 53,5%. Sisanya dipenuhi dari ubi kayu (22,6%), jagung (18,9%), dan kentang (4,99%). Akan tetapi, kondisi itu terus berubah pada era Orde Baru. Pada akhir 80-an, proporsi beras semakin dominan mencapai 81,1%, sisanya ubi kayu (10,02%) dan jagung (7,82%). Orde Baru makin mendorong beras untuk menjadi bahan pangan utama di seluruh Indonesia. Penyeragaman konsumsi beras di Indonesia membuat makanan pokok lokal terabaikan.


Kini upaya mengembalikan keragaman pangan tengah dilakukan oleh pemerintahan melalui Gerakan Diversifikasi Pangan yang dipelopori Kementerian Pertanian. Gerakan ini serentak dimulai di 34 provinsi di seluruh Indonesia sebagai antisipasi krisis pangan. Gerakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan konsumsi beras dan sebagai penyedia sumber pangan alternatif berupa sumber karbohidrat lokal non beras. Dengan demikian, konsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat lain pun diharapkan terus meningkat.


Kementerian Pertanian mengajak seluruh gubernur dan bupati/wali kota untuk bersinergi menguatkan gerakan diversifikasi pangan ini dalam upaya mengukuhkan ketahanan pangan. Kita akan kembali meneguhkan bahwa bangsa ini punya keanekaragaman pangan yang besar, tidak hanya beras yang membuat kenyang. Hal ini ditindaklanjuti dengan gerakan di sejumlah daerah yang mengeluarkan kebijakan sehari tanpa nasi. Akan tetapi, kebijakan itu tidak pernah efektif dilaksanakan. Perlu keteladanan dari kepala daerah untuk mulai memelopori mengonsumsi pangan lokal. Upaya diversifikasi pangan lokal ini ditargetkan menurunkan konsumsi beras dari 94,9 kg per kapita per tahun menjadi 85 kg per kapita per tahun pada 2024. Selain itu, upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan UMKM pangan sebagai penyedia pangan lokal. Namun, upaya ini tentu tidak mudah. Membalikkan persepsi masyarakat untuk mengganti beras dengan komoditas lain harus diikuti dengan kebijakan dan aksi kampanye yang masif.


Pemerintah tidak bisa tiba-tiba memaksakan kebijakan diversifikasi pangan jika produksi pangan lokal, seperti umbi umbian, di setiap wilayah belum bisa ditingkatkan. Ketersediaan bahan baku yang terbatas dan harga yang kurang kompetitif dibanding dengan komoditas pangan utama, yakni beras masih menjadi kendala terbesar. Sinergi dari semua pihak untuk mengangkat produk pangan lokal selain beras memang harus sudah mulai dilaksanakan dengan segera di 34 provinsi di Indonesia.


No. 

Struktur Teks

Paragraf ke- 

Alasan














________

Refleksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kelas 8 - Bab 5 - Mengenali Majas(gaya bahasa) dan repetisi(pengulangan) dalam Puisi - Pertemuan 8

  Assalamualaikum Wr. Wb. Semangat Pagi Siswa-siswi Sekalian....  Nama Guru : Mayang Famelia, S.Pd Mapel Diampu : Bahasa Indonesia Hari, Tan...