Rabu, 01 April 2026

Kelas 7 - Bab 5 - Unsur Buku Fiksi dan Non Fiksi - Pertemuan 2

Assalamualaikum Wr. Wb. Semangat Pagi Siswa-siswi Sekalian.... 

Nama Guru : Mayang Famelia, S.Pd

Mapel Diampu : Bahasa Indonesia

Hari, Tanggal : Rabu, 01 April 2026

Kelas : 7

Materi :  Unsur Buku Fiksi dan Non Fiksi

Pertemuan : 2



Tujuan Pembelajaran : 

peserta didik dapat memahami serta mengindentifikasi unsur yang ada pada buku fiksi dan nonfiksi



Materi Pembelajaran (inti pembahasan) : 


Buku fiksi dibangun atas unsur imajinatif (tema, alur, tokoh, latar, sudut pandang, amanat), sedangkan buku nonfiksi berdasarkan fakta (judul, pengarang, penerbit, daftar isi, isi, daftar pustaka). Fiksi bertujuan menghibur, sementara nonfiksi menyajikan informasi faktual. Perbedaan utama terletak pada penggunaan bahasa konotatif (fiksi) dan denotatif/formal (nonfiksi). 


Berikut adalah perincian unsur-unsur buku fiksi dan nonfiksi:

1. Unsur Buku Fiksi (Cerita Rekaan)

  • Tema: Gagasan pokok atau dasar cerita.

Unsur buku fiksi yang keempat yaitu tema. Tema sendiri memiliki peranan yang sangat penting karena berhubungan secara langsung dengan jalan cerita karya tulis fiksi. Tema bisa diartikan sebagai sebuah gagasan pokok dalam sebuah karya tulis. Sebuah tema bisa dijabarkan sehingga isi cerita terstruktur dan tetap sesuai tema.


  • Tokoh dan Penokohan: Individu dalam cerita beserta wataknya (protagonis, antagonis, tritagonis).

Unsur buku fiksi yang kelima adalah penokohan atau perwatakan. Dalam sebuah buku fiksi, tokoh menjadi salah satu unsur buku yang sangat penting. Hal ini dikarenakan tokoh menjadi salah satu bentuk gambaran dari setiap individu di dalam cerita lengkap dengan karakternya.

Membicarakan terkait karakter, sebuah penokohan atau perwatakan menyimpan beberapa jenis karakter, mulai dari karakter protagonis yang digambarkan dengan tokoh utama atau baik, antagonis yang menentang protagonis dan biasanya digambarkan dengan watak jahat, hingga tritagonis atau biasa disebut juga tokoh pembantu protagonis.



  • Alur (Plot): Rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.

Di dalam alur terdapat konflik yang menggambarkan pertentangan setiap tokoh dalam cerita yang menghasilkan ketegangan. Adanya konflik membuat jalan cerita menjadi lebih menarik karena terdapat proses klimaks dan antiklimaks.


  • Latar (Setting): Tempat, waktu, dan suasana terjadinya cerita.

Latar adalah keterangan mengenai tempat, waktu, dan suasana dalam sebuah cerita. Selain itu, latar juga bisa dikatakan sebagai keterangan. Maksudnya alur yang berhubungan dengan waktu, ruang, dan suasana. 


  • Amanat : Pesan moral yang ingin disampaikan.

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui cerita tersebut. Salah satu hal yang membedakan dari buku fiksi adalah terdapat amanat yang terkandung di dalamnya. Amanat diambil dari keseluruhan isi cerita yang dibangun.


  • Gaya Bahasa : Penggunaan bahasa untuk menghidupkan cerita, seringkali konotatif.

Gaya bahasa adalah cara penulis menyampaikan ceritanya. Biasanya terdapat majas-majas tertentu yang digunakan oleh penulis. Seperti majas perbandingan, sindiran, penegasan, hingga pertentangan. 



  1. Unsur Buku Nonfiksi (Berdasarkan Kebenaran)
  • Sampul Buku: Judul, penulis, penerbit.
  • Pokok Bab/Buku Pengantar: Penjelasan tujuan dan isi buku.
  • Judul Bab dan Sub-bab: Terstruktur dalam daftar isi.
  • Isi Buku: Paparan data, fakta, atau informasi yang bersifat ilmiah populer.
  • Penutup/Simpulan : Intisari akhir dari isi buku.
  • Daftar Pustakasn : Sumber referensi atau acuan penulisan.
  • Glosarium: Daftar istilah penting atau kata kunci. 


Perbedaan Utama:

  • Bahasa: Fiksi menggunakan bahasa konotatif/emosional, nonfiksi menggunakan bahasa denotatif/formal.
  • Sifat: Fiksi berdasarkan imajinasi/relatif, nonfiksi berdasarkan fakta/objektif.
  • Tujuan: Fiksi menghibur (emosi), nonfiksi menambah wawasan (logika). 


Contoh Buku Fiksi: Novel, cerpen, dongeng, puisi, komik.

Contoh Buku Nonfiksi: Buku pelajaran, biografi, laporan ilmiah, ensiklopedia, panduan. 


___________


Assasmen : 



Bacalah teks cerita fiksi dibawah ini, kemudian masing-masing kelompok mengidentifikasi unsur-unsur buku fiksi yang ada di teks tersebut. 


IMG_2642.jpeg


Cerita Fiksi Malin Kundang

Malin Kundang, Kisah Si Anak yang Durhaka

Di sebuah desa kecil di pesisir pantai Sumatera, hiduplah seorang anak bernama Malin Kundang bersama ibunya. Mereka hidup miskin, tetapi sang ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Setiap hari, ibunya bekerja keras untuk menghidupi Malin, berharap suatu hari anaknya bisa menjadi orang yang sukses dan mengangkat derajat keluarga mereka.

Malin Kundang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan rajin. Namun, kehidupan di desa yang penuh kesulitan membuatnya merasa tak puas. Malin sering kali memandang ke laut lepas, berharap suatu hari bisa pergi jauh dari desa dan meraih kehidupan yang lebih baik. “Ibu, suatu hari aku akan pergi merantau dan kembali sebagai orang kaya,” katanya kepada ibunya.

Suatu ketika, kesempatan itu datang. Sebuah kapal besar berlabuh di pantai desa mereka, dan Malin merasa inilah saatnya. Ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau. Dengan berat hati, sang ibu mengizinkan, tetapi ia berpesan, “Malin, jangan lupakan ibumu. Tetaplah rendah hati dan ingat asal usulmu.”

Malin pergi berlayar, meninggalkan desanya dan ibunya. Di perjalanan, ia bekerja keras, dan nasib baik berpihak padanya. Ia akhirnya menjadi seorang pedagang sukses, memiliki harta melimpah, dan menikahi seorang perempuan cantik dari keluarga kaya. Namun, dalam kebahagiaannya, Malin mulai melupakan janji-janji kepada ibunya.

Beberapa tahun berlalu, Malin tidak pernah pulang atau memberi kabar kepada ibunya. Sang ibu tetap setia menunggu anaknya di tepi pantai, berharap suatu hari Malin akan kembali. Hingga suatu hari, terdengar kabar bahwa seorang pedagang kaya berlabuh di desa mereka dengan kapal besar. Sang ibu yakin itu adalah Malin dan bergegas ke pantai untuk menyambutnya.

Ketika kapal besar itu tiba, memang benar, Malin Kundang ada di atasnya. Namun, ketika sang ibu mendekat dan memanggil namanya, Malin justru menolak mengakuinya. Malin merasa malu dengan penampilan ibunya yang lusuh di depan istrinya dan anak buahnya. “Aku tidak mengenal wanita tua ini,” katanya dengan dingin.

Sang ibu sangat terpukul dengan perlakuan Malin. Ia tak menyangka anak yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang kini tidak mau mengakuinya. Dengan hati yang hancur, ia berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan, jika benar dia anakku, maka hukumlah dia karena kedurhakaannya.”

Tak lama setelah doa itu dipanjatkan, langit tiba-tiba menjadi gelap. Petir menyambar keras, angin kencang bertiup, dan ombak besar menghantam kapal Malin. Dalam sekejap, tubuh Malin membatu, menjadi patung yang tergeletak di tepi pantai sebagai pengingat akan dosa durhaka kepada orang tua.

Patung Malin Kundang masih ada di tepi pantai hingga kini. Cerita ini menjadi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya menghormati dan menyayangi orang tua. Tidak peduli seberapa tinggi kita terbang, jangan pernah melupakan asal kita dan orang yang telah berjuang untuk kita.



Kelas 8 - BAB 5 - Unsur Puisi - Pertemuan 3

 Assalamualaikum Wr. Wb. Semangat Pagi Siswa-siswi Sekalian.... 

Nama Guru : Mayang Famelia, S.Pd

Mapel Diampu : Bahasa Indonesia

Hari, Tanggal : Rabu, 01 April 2026

Kelas : 8

Materi :  Unsur Puisi

Pertemuan : 3



Tujuan Pembelajaran : 

peserta didik dapat mengidentifikasi unsur-unsur sebuah puisi.



Materi Pembelajaran (inti pembahasan) : 


A. UNSUR PUISI

Unsur-unsur puisi terdiri dari struktur fisik (visual/bunyi) dan struktur batin (makna/perasaan) yang membangun keindahan serta pesan karya tersebut. Unsur fisik meliputi diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima, dan tipografi. Struktur batin terdiri dari tema, rasa, nada, dan amanat. 


Berikut adalah penjabaran lengkap unsur-unsur pembangun puisi:


1. Struktur Fisik Puisi (Metode Puisi)

Ini adalah unsur yang terlihat langsung saat puisi dibaca. 


1).. Diksi: Pemilihan kata yang dilakukan penyair untuk mencapai efek estetis tertentu.

2).. Imaji (Citraan): Susunan kata yang menimbulkan imajinasi/khayalan, seolah pembaca melihat, mendengar, atau merasakan apa yang dialami penyair.

Imaji adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan atau memperjelas pengalaman imajinasi. Imaji atau pencitraan berkaitan erat dengan daya tangkap pancaindra manusia. Kata-kata yang disusun dalam puisi bisa lebih obyektif, sehingga pembaca dapat seolah-olah mendengar, merasakan, bahkan melihat.

Jenis-jenis citraan/imaji dalam puisi, yaitu Citraan Penglihatan, Citraan Pendengaran, Citraan Perabaan. Citraan Penciuman, Citraan Pencecap, Citraan Perasaan, dan Citraan Gerak.


3).. Kata Konkret 

Kata yang dapat ditangkap dengan indra, memungkinkan munculnya imaji.

Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata konkret "salju" melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dan lain-lain. Sedangkan kata konkret "rawa-rawa" dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dan lain-lain. Kata konkret merupakan syarat terjadinya pengimajian atau pencitraan.


4)... Gaya Bahasa (Majas)

Penggunaan bahasa kiasan untuk menciptakan kesan tertentu dan menghidupkan puisi.


Gaya bahasa yang sering digunakan pada penulisan puisi : 

1. Hiperbola yaitu menggunakan kata seperti melebih-lebihkan dibandingkan kenyataannya. Contoh dari hiperbola ialah, "Rasa sakit hatiku rasanya lebih daripada jika kau tusuk aku dengan belati"

2. Ironi merupakan pilihan kata yang berlawanan dengan yang sebenarnya. Kalimatnya ironi seperti, "Wakil rakyat itu sangat menjaga amanah, sampai berapa rupiah hak rakyat disimpan baik-baik direkening pribadinya".

3. Sarkasme adalah penggunaan kata kasar yang biasanya menunjukkan kemarahan. Sarkasme bisa berupa cacian atau sindiran seperti, "Apa bedanya koruptor dengan tikus?" 

4. Simile berupa kata perbandingan yang sesungguhnya atau eksplisit. Kata, "bagaikan", "sebanding", "layaknya", sebagainya merupakan contoh dari pengunaan gaya bahasa simile.

5. Metafora ungkapan dengan kata kiasan mengenai suatu kondisi seseorang atau benda tertentu. Metafora dapat dilihat dalam kalimat, "Hatinya berbunga-bunga menerima surat balasan itu".

6. Personifikasi dengan menggunakan kata benda yang seolah bisa bertindak seperti manusia. "Aku dipeluk hangatnya sinar mentari".

7. Litotes adalah pernyataan merendahkan diri. Kalimat dengan litotes seperti, "Baktiku pada negeri hanya setitik".


5).. Rima/Ritme: Pengulangan bunyi dalam puisi (di akhir baris atau di dalam baris) untuk menciptakan musikalitas.

Rima. Ritme/irama

Rima adalah persamaan bunyi yang ditimbulkan oleh kata/huruf pada tiap akhir larik atau baris dalam bait-bait puisi. Ritme/irama adalah tinggi rendah, Panjang pendek, dan keras lembutnya pada saat membaca puisi.


6).. Tipografi (Tata Wajah): Bentuk puisi, seperti pengaturan baris, tepi kanan-kiri, atau tidak selalu dimulai huruf kapital dan diakhiri titik.



2. Struktur Batin Puisi (Hakikat Puisi)

Ini adalah unsur tersembunyi yang menjadi dasar penyair dalam berkarya. 

  • Tema: Gagasan pokok atau ide utama yang ingin disampaikan oleh penyair.
  • Rasa (Feeling): Sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya.
  • Nada (Tone): Sikap penyair kepada pembaca (misalnya menggurui, sinis, atau santai).
  • Amanat (Tujuan): Pesan yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca. 


3. Unsur Ekstrinsik Puisi

Unsur di luar puisi yang memengaruhi penciptaan, meliputi:

  • Biografi: Latar belakang kehidupan penulis.
  • Sosial/Historis: Kondisi masyarakat atau sejarah saat puisi dibuat





Assasment : 

BERLATIH : Kalian sudah mempelajari unsur-unsur puisi. Sekarang cermatilah puisi "Pada Sebuah Kedai Kopi". Temukanlah unsur-unsur puisi tersebut. Gunakan tabel berikut untuk membantu kalian menemukan unsur-unsur puisi.


Tabel 5. 2 Unsur-Unsur Puisi "Pada Sebuah Kedai Kopi"



Unsur-Unsur Puisi

Contoh dalam Puisi "Pada Sebuah Kedai Kopi"

1.

Larik


2.

Bait


3.

Rima


4.

Imaji


5.

Diksi


6.

Majas atau Gaya bahasa




Mendiskusikan Makna Kata dalam Larik Puisi Saat membaca sebuah puisi, mungkin kalian akan menemukan kata atau larik yang kurang kalian pahami maksudnya. Untuk dapat memahaminya, terkadang kalian harus membaca larik puisi itu berulang kali atau dibantu dengan mengecek kata dalam kamus. Cara lain untuk memahaminya adalah dengan mencari tahu kalimat tersebut merupakan kalimat perbandingan atau bukan.


Berikut ini disajikan sebait puisi. Cermatilah diksi atau pilihan kata yang digunakan di dalam larik puisi tersebut.


Matamu, Ibu, adalah danau di kaki bukit pada pagi hari


Ketika tinggi matahari baru sepenggalah Dan sisa-sisa embun masih berbekas di ujung rumput Suaramu, Ibu, adalah ricik hujan setelah kemarau panjang meretakkan tanah-tanah ladang


Diskusikanlah bersama teman kalian, makna dari kata-kata yang ada dalam setiap larik puisi tersebut.


Larik

Makna

Matamu, Ibu, adalah danau di kaki bukit pada pagi hari


Suaramu, Ibu, adalah ricik hujan setelah emarau panjang meretakkan tanah-tanah ladang




_____________

Refleksi

Kelas 7 - Bab 5 - Unsur Buku Fiksi dan Non Fiksi - Pertemuan 2

Assalamualaikum Wr. Wb. Semangat Pagi Siswa-siswi Sekalian....  Nama Guru : Mayang Famelia, S.Pd Mapel Diampu : Bahasa Indonesia Hari, Tangg...