Assalamualaikum Wr. Wb. Semangat Pagi Siswa-siswi Sekalian....
Saatnya kita masuki pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 8 hari ini Rabu 5 November 2025, Pada Pembelajaran hari ini kita akan melanjutkan materi pertemuan sebelumnya yaitu "Kaidah Kebahasaan(Adverbia) dalam Artikel Ilmiah Populer"
Silahkan dibaca dan dipahami materinya.
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : 8
Materi : Kaidah Kebahasaan(Adverbia) dalam Artikel Ilmiah Populer"
Pertemuan Ke : 7
Jam ke : 7-9
Metode : Diskusi Kelompok dan tanya jawab
Profil Pelajar Pancasila : Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif
Media/Alat peraga : Teks Artikel Ilmiah Populer , PPT Materi Ajar
Bab III : Menulis Artikel Ilmiah Populer
Elemen : Menyimak
Capaian Pembelajaran (CP) : Peserta didik mampu menganalisis dan memaknai informasi berupa gagasan, pikiran, perasaan, pandangan, arahan atau pesan yang tepat dari berbagai tipe teks audio visual dan aural dalam bentuk monolog, dialog, dan gelar wicara. Peserta
didik mampu mengeksplorasi dan mengevaluasi berbagai informasi dari topik aktual yang didengar.
Tujuan Pembelajaran :
- Peserta didik mampu memahami dan menganalisis Kaidah Kebahasaan(Adverbia) dalam Artikel Ilmiah Populer
Simaklah materi berikut ini :
A. Apa itu Adverbia (Kata Keterangan
adverbia adalah kata keterangan yang fungsinya memberikan penjelasan atau keterangan pada kata verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), dan nomina predikatif atau nomina yang berfungsi sebagai predikat.
Penggunaan kalimat adverbia akan membantu memberikan gambaran yang jelas mengenai suatu hal atau peristiwa dalam sebuah kalimat. Dengan adanya kata keterangan, maka sebuah kalimat akan terlihat lebih lengkap dan mudah dipahami.
Contoh kata adverbia antara lain adalah “sering”, “selalu”, “kadang-kadang”, “jarang”, “banyak”, “sedikit”, “kira-kira”, “cukup”, “amat”, “sangat”, dan “tidak”. Pada KBBI kata “tidak” ditandai dengan keterangan (adv) yang menunjukkan bahwa kata “tidak” termasuk kata keterangan.
Kata “tidak” menjelaskan adanya penolakan, pengingkaran serta penyangkalan.
B. Ciri ciri Adverbia
- Kata keteranga selalu berada di awal atau di akhir kalimat.
- Tidak bisa diterapkan sebagai penjelas pada kata benda (nomina) dan pronomina (kata ganti benda).
- Bisa digunakan sebagai penjelas pada jenis kata kerja, kata sifat dan kata bilangan.
- Bebas digunakan dalam semua jenis kalimat.
C. Jenis Adverbia
1. Adverbia Frekuentatif
Adverbia frekuentatif adalah kata keterangan yang digunakan untuk menyatakan tindakan secara berulang atau kebiasaan. Jenis kata keterangan frekuentatif mengacu pada kata kerja yang dilakukan secara berulang dan sering.
Contoh adverbia frekuentatif bisa ditemukan pada beberapa kata seperti “kadang-kadang”, “sering”, “selalu”, “kerap”, “biasanya”, “jarang” dan lain-lain.
Contoh Kata Keterangan Frekuentatif
- Fadil kadang-kadang membantu jualan di toko sepulang sekolah.
- Saya sering melihat Reni membeli buku di toko dekat rumah.
- Nina selalu membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah.
- Adik kerap menangis kalau ibu tidak mengajaknya ke pasar.
- Ayah biasanya membawa oleh-oleh jika pulang dari luar kota.
- Roni jarang pulang kampung setelah neneknya meninggal.
2. Adverbia Kualitatif
Jenis kata keterangan kualitatif digunakan untuk menjelaskan makna yang berkaitan dengan tingkat, derajat, dan mutu. Seperti pada kata “sangat”, “paling”, “kurang”, “agak”, “lebih”.
Contoh Kata Keterangan Kualitatif
- Adik sangat senang melihat nenak datang.
- Rina dikenal sebagai murid yang palingpintar di sekolah.
- Kue ini rasanya kurang manis, tidak seperti biasanya.
- Ibu merasa agak lelah setelah pulang dari rumah nenek.
- Nina dianggap lebih pintar dibandingkan Nani kembarannya.
3. Adverbia Kuantitatif
Kata keterangan kuantitatif merupakan kata penjelas untuk menyatakan makna kalimat yang berhubungan dengan jumlah. Misalnya “sedikit”, “banyak”, “cukup”, “kira-kira”, “beberapa”.
Contoh Kata Keterangan Kuantitatif
- Tempat wisata itu tetap buka meskipun pengunjungnya sedikit.
- Kamu harus banyak istirahat agar cepat sembuh.
- Uang tabungan adik cukup untuk membeli sepatu baru.
- Jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 5 kilometer.
- Beberapa siswa akan mengikuti kegiatan kemah pada hari Minggu.
4. Adverbia Limitatif
Sesuai dengan namanya, kata keterangan limitatif atau pembatasan digunakan untuk menerangkan makna yang berhubungan dengan pembatasan. Seperti pada kata “hanya”, “saja”, “selain”, “kecuali”, “sampai”, “sekedar”.
Contoh Kata Keterangan Limitatif
- Lomba menulis puisi itu hanya boleh diikuti siswa kelas X dan XI.
- Seharian adik bermain di rumah saja karena hujan belum reda.
- Tidak ada yang boleh masuk selainkaryawan.
- Apotik itu buka setiap hari kecuali hari Minggu.
- Rina datang ke rumah Nana sekedarmemberikan hadiah ulang tahun.
- Toko kue itu buka sampai jam 9 malam.
5. Adverbia Kontrastif
Kata keterangan kontrastif digunakan sebagai penjelas yang menyatakan adanya pertentangan dengan makna kata yang telah disampaikan sebelumnya. Contohnya pada kata “bahkan”, “malah”, “justru”.
Contoh Kata Keterangan Kontrastif
- Saya tidak tahu siapa namanya, bahkansetelah mengobrol cukup lama.
- Jangankan membalas pesan, dia malah pura-pura tidak kenal saat bertemu.
- Setelah terpilih menjadi wakil rakyat, dia justru lupa dengan janji kampanyenya.
6. Adverbia Waktu
Kata keterangan waktu digunakan untuk menerangkan makna yang berhubungan dengan waktu terjadinya suatu hal atau peristiwa. Seperti dalam kata “segera”, “baru”, “lekas”, “langsung”.
Kata Keterangan Waktu
- Andi segera pulang setelah mendapat kabar ibunya sakit.
- Nina baru mengerjakan PR ketika Reni datang.
- Ayah lekas pulang ke rumah setelah mengetahui adik sakit.
- Dita langsung berangkat ke rumah nenek menyusul ibu dan adiknya.
7. Adverbia Kecaraan
Jenis kata keterangan kecaraan berfungsi untuk menyatakan makna yang berkaitan dengan proses terjadinya suatu hal atau peristiwa. Seperti pada kata “secepatnya”, “diam-diam”, “pelan-pelan”.
Contoh Kata Keterangan Kecaraan
- Mereka diminta untuk pergi secepatnyasetelah mendapatkan ganti rugi.
- Dia memberikan uang secara diam-diamkepada pengemis yang ditemui di jalan.
- Adik makan pelan-pelan karena giginya sedang sakit.
8. Adverbia Keniscayaan
Kata keterangan keniscayaan digunakan sebagai penjelas atau menerangkan makna yang berhubungan dengan kepastian suatu hal atau terjadinya peristiwa. Misalnya “tentu”, “pasti”, “niscaya”.
Contoh Kata Keterangan Keniscayaan
- Setelah mengetahui hadiahnya, tentu dia akan berusaha keras untuk memenangkan lomba itu.
- Jangan khawatir, kamu pasti bisa melewati masa sulit ini.
- Kalau kamu sudah bekerja keras dan berdoa, niscaya akan meraih kesuksesan yang diinginkan.
Mari berlatih berdiskusi ;
Cermatilah teks Artikel Ilmiah Populer dibawah ini. Kemudian carilah kalimat yang terdapat kata adverbia(kata keterangan)
Dampak Penggunaan Gawai terhadap Kesehatan Mental Remaja
Dalam kehidupan modern saat ini, gawai telah menjadi bagian yang sangat penting dari aktivitas sehari-hari. Remaja sering kali menggunakan gawai untuk belajar, berkomunikasi, dan mencari hiburan. Namun, penggunaan gawai yang berlebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental. Banyak penelitian menunjukkan bahwa remaja yang terlalu sering menggunakan gawai cenderung mengalami stres, kecemasan, dan gangguan tidur. Oleh karena itu, penggunaan gawai perlu diatur dengan bijak agar tidak menimbulkan masalah psikologis.
Secara ilmiah, penggunaan gawai secara terus-menerus dapat memengaruhi fungsi otak. Ketika seseorang terlalu lama menatap layar, otak akan bekerja lebih keras untuk memproses informasi visual dan suara. Hal ini sering kali menyebabkan kelelahan mental dan menurunkan kemampuan konsentrasi. Selain itu, paparan cahaya biru dari layar gawai dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur pola tidur. Akibatnya, remaja sering kali tidur larut malam dan merasa lelah keesokan harinya.
Dari sisi sosial, penggunaan gawai yang berlebihan juga dapat mengurangi interaksi langsung antarindividu. Remaja yang terlalu sering bermain media sosial cenderung lebih tertutup dan sulit berkomunikasi secara nyata. Mereka lebih nyaman berinteraksi secara daring daripada bertemu langsung. Kondisi ini perlahan-lahan dapat menurunkan kemampuan sosial dan empati terhadap orang lain. Akibatnya, hubungan pertemanan menjadi kurang erat dan komunikasi tatap muka semakin jarang dilakukan.
Selain itu, konten yang mudah diakses melalui gawai juga berpotensi memengaruhi pola pikir remaja. Informasi yang tidak benar atau berita palsu sering kali tersebar dengan cepat di media sosial. Remaja yang tidak berhati-hati dapat mudah terpengaruh oleh informasi tersebut. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis dan literasi digital sangat diperlukan agar remaja dapat menyaring informasi dengan benar.
Meskipun demikian, gawai juga memiliki manfaat yang signifikan jika digunakan dengan bijaksana. Banyak aplikasi edukatif yang dapat membantu proses belajar dan meningkatkan kreativitas. Remaja sebaiknya menggunakan gawai untuk hal-hal yang produktif, seperti mencari referensi pelajaran atau mengembangkan keterampilan baru. Dengan cara ini, gawai tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kualitas diri.
Dengan memahami dampak positif dan negatif penggunaan gawai, remaja diharapkan lebih bijak dalam mengatur waktu penggunaannya. Orang tua dan guru juga perlu berperan aktif dalam memberikan bimbingan serta pengawasan. Jika penggunaan gawai dikelola dengan baik, maka manfaatnya akan lebih besar daripada risikonya. Oleh karena itu, keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata harus dijaga agar kesehatan mental remaja tetap stabil dan terpelihara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar